Site Network: Me on Blogspot | Me on Wordpress | SMP 1 Bone-Bone | Al-Falah Connection | Matematika UIN

 

Menjadi abid sebenar-benarnya Abied



Be a Superman??

Sistem pendidikan yang telah kita alami sejak SD hingga level SMA adalah sistem pendidikan multi dimensi. Memang, seperti tujuan pendidikan nasional yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Seutuhnya berarti bisa menjadi siapa di segala apa. (Maksudnya?) Maksudnya kita dituntut untuk menguasai segala bidang, meski itu bukan spesialisasi. Untuk hidup kita membutuhkan agama, kita membutuhkan PPKn, kita membutuhkan Bahasa Indonesia, kita membutuhkan matematika, kita membutuhkan fisika, kita membutuhkan biologi dan kita membutuhkan KTK. Semua mesti dikuasai oleh siswa dalam waktu yang bersamaan. Ini yang mungkin menjadi masalah. Sang siswa akan dengan mudah mengatakan : "Ya memang Bapak Ibu guru bisa menguasai matematika dengan sangat baik, lha wong yang mereka pelajari tiap hari kan cuma matematika. Lha kita?? Kita mesti mengerjakan tugas bahasa Inggris, mesti bikin rangkuman IPS Geografi, mesti latihan soal fisika, mesti praktek buat masakan". Emang gitu ya?
Ya nggak lah! Coba tanya mahasiswa Bahasa Inggris. Materi Bahasa Inggris itu banyak banget. Gak cuma secuplik seperti yang siswa pahami dalam dunia sekolah. Waktu kuliah aja, ada reading, speaking, listening, translate, writing, TOEFL, English for Children, bla.. bla.. bla...Ada yang memang kadang tidak bisa matematika, dipaksa untuk menguasai dan memahami matematika. Jadinya, ada siswa yang dengan "terpaksa" memeras otak, gak tidur semalaman untuk dapat menjawab soal-soal yang esok akan diberikan oleh sang guru. Hal ini biasanya berakibat pada kebencian siswa terhadap satu mata pelajaran. (Meski kebanyakan yang mereka benci adalah matematika, fisika atau mata pelajaran lain yang membutuhkan itung-itungan. Mungkin, materi pelajaran yang sulit menyebabkan banyak siswa gak suka matematika. Atau malah karena anak gak suka matematika makanya materi pelajaran yang mestinya agak mudah dipahami menjadi sangat sulit. Ini memang lingkaran setan).
Tapi kita akan mencari seseorang yang bisa kita jadikan pegangan, "pedoman", idol, favorit atau sejenisnya, kita cenderung menginginkan yang "Serba Bisa". Kita ingin sang pacar yang menjadi penghuni tetap hati kita adalah "Superman". Manusia segala dimensi. Disuruh komputer bisa, disuruh matematika bisa, bahasa Inggris jago, ngaji pinter, masak oke, olahraga hebat, dan seterusnya. Yee... manusia mah memang gitu atu! Selalu menginginkan yang serba perfect. Dalam sebuah lagu kasidah dikatakan :
Kukagum penampilanmu,
Membuatku simpati,
Siapa yang melihatmu,
Pasti kan jatuh hati,

Berwibawa, beretika, serba bisa, luar biasa ...

Naaah kan... terbukti. Lagu ini menjadi dasar, bahwa banyak diantara kita yang menginginkan orang yang serba bisa. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa itu adalah hampir tidak mungkin. Ketika seseorang mengambil spesialis di suatu bidang, maka otomatis dia akan melupakan (agak menafikan) bidang yang lain. Beberapa hari kemarin sempat membaca tentang sejarah Bill Gates yang pada usinya yang baru beranjak 20 tahun sudah berani mendirikan Microsoft (karena fokusnya adalah bisnis). Artinya, ketika Bill Gates memilih software komputer sebagai pilihan berkarir, maka ia akan sedikit menafikan keterampilan menyanyinya, atau keterampilan teknik mesin yang mungkin dia miliki. Mau bukti, coba temui Bill Gates, suruh dia memperbaiki ban mobilnya yang kempes (Walah, yo gak mau lah, lha wong dia punya banyak duit kok. Bawa ke bengkel aja. Ya to?) Ini adalah bukti bahwa "be a superman" memang sangat sulit. Tapi mungkin saja bisa. Ini bisa menjadi ukuran bagi kita. Kita seringkali merasa orang lain lebih hebat dari kita.
Jujur saja, ketika melihat blog milik Asta Qauliyah beberapa hari lalu, saya iri ... sangat iri padanya. Ia yang sudah mampu membuat dollar dari blog yang ia miliki. Ratusan dollar per bulan. Tapi kemudian saya sadar, dia memang sudah lama bergelut di dunia ini. Meskipun profesi aslinya adalah dokter. Wow.. Salut juga pada orang super seperti ini.
Memang, dalam hidup ada yang namanya "SKALA PRIORITAS". Ketika kita menjadi seorang mahasiswa matematika, maka spesialisasi kita harusnya adalah matematika. Bahasa Inggris, Bahasa Arab, komputer, atau blog bisa menjadi pilihan kedua keterampilan yang kita kembangkan. Yang penting, prioritas utama tetap menjadi yang pertama.
Seperti yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya (Mari Bersyukur), kebahagiaan, "bagi kita", biasanya ada pada orang lain. Makanya, mesti bersyukur. Jangan pernah menilai diri kita hanya dari segi materi dibandingkan orang lain, tapi perlu juga melihat sisi rohani. Yang payah, kalau dalam rohani kita kalah, dan dalam materi juga kalah. Waaahh... kemudian hanya berpangku tangan dan berkata : "Mungkin ini memang sudah takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan". Kasihan ...
Ini kutulis sebagai pancaran kegelisahan hatiku. Ketika banyak bayang-bayang masa depan yang menghantuiku. "Akan jadi apa aku nanti?" Kuyakin, ketika kita memiliki keterampilan dan spesialisasi, maka kita tak akan kemana-mana mencari hidup, tapi hiduplah yang akan mencari kita. Refleksi tahun baru!! Hidup hari ini mesti harus lebih baik dari hidup tahun kemarin. Setiap detik begitu berharga. Waktu dan kesempatan yang datang tidak akan pernah kembali. Semoga bisa menjadi lebih baik.

posted by Abied @ 21:41,

1 Comments:

At 31 Desember, 2007 22:06, Anonymous Anonim said...

Assalamu'alaikum

Salam kenal juga. Terimakasih sudah berkunjung.

Memang menjadi seorang "superman" alias segala bisa itu tidak mudah. Mungkin ga ada yang bisa...

Salam

mathematicse (Al Jupri

 

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home