Site Network: Me on Blogspot | Me on Wordpress | SMP 1 Bone-Bone | Al-Falah Connection | Matematika UIN

 

Menjadi abid sebenar-benarnya Abied



Bumi Kita Sudah Tua

Itu kata salah seorang teman ketika kami berdiskusi tentang berbagai macam bencana yang terjadi di planet yang kita huni ini. 75% dari seluruh bencana yang terjadi (menurut hasil penelitian) disebabkan oleh faktor alam misalnya gempa, banjir, longsor, dan sejenisnya. Sisanya adalah karena penyakit seperti AIDS, Flu Burung, Demam Berdarah, dan lain sebagainya. Memang, bumi kita sudah begitu rentan dengan berbagai gerakan yang mengakibatkan bencana bagi alam. Mungkin saja (menurut Dosen Biologi Umum saya, tahun 2004 lalu mengatakan) tsunami yang terjadi hanyalah bentuk sujud sembah lautan kepada Tuhan-Nya, hanya saja kebetulan tempat terjadinya adalah daerah yang dihuni oleh orang banyak, tepatnya Aceh Darussalam. Sebenarnya dengan begitu mudah Tuhan bisa memerintahkan tsunami itu menimpa Makassar, hanya saja mungkin di Makassar ini masih begitu banyak orang yang beriman (hiks ... hiks ...) sehingga Tuhan membatalkan niatnya.
Jumat kemarin, ustadz yang membawakan khutbah menyinggung tentang hari kiamat. Merinding juga (sesaat. Setelah itu ... Deeeeer, jadi lagi gilanya). Salah satu tanda yang menjadi alamat kiamat sudah dekat adalah bencana yang sering terjadi belakangan ini. Tak kenal siapapun. Sebagai contoh, ketika orang-orang di DI Yogyakarta waspada terhadap gunung kelud yang meletus, ternyata Tuhan justru menggoyangkan bumi menjadi gempa di pertengahan tahun 2006 lalu. Bisa jadi juga begitu dengan kita yang ada di Makassar. Mungkin saja kita merasa nyaman, "ah, paling yang bakal menimpa kita hanyalah banjir atau angin puting beliung", tapi dalam sedetik semua bisa terjadi. Tuhan bisa juga mengirimkan gempa berkekuatan 9 Skala Richter ke pertengahan Tanjung Bunga kemudian terjadi tsunami, lalu akhirnya ... Kita semua mati (Ups, jangan dulu lah! Aku kan belum merried).
Dalam Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference) yang diadakan di Bali minggu lalu, (meskipun saya tidak mengikuti perkembangannya hingga akhir, bisa lihat di sini tentang itu, ditekankan bahwa perubahan iklim yang terjadi sekarang memang menjadi masalah utama kelanjutan kualitas hidup kita umat manusia. Yang paling ngeri (meskipun itu baru kulitnya doang), ketakutan terhadap pencairan es yang ada di kutub utara bakal menyebabkan beberapa pulau kecil di bumi ini bakal tenggelam, mungkin termasuk Sulawesi (hiii... takut). Namun mendengar semua itu, kita tetap saja yakin bahwa : Esok kita masih bernafas, hidup kita masih panjang, cerita kita masih akan berlanjut hingga dua puluh-an tahun mendatang. Saya bahkan masih yakin bahwa saya masih akan menemukan saat dimana (menurut Dosen Pemrograman Komputer saya) komputer hanya memiliki ukuran sebesar lingkaran hitam bola mata kita (Wets, kapan itu?).
Ya, kita selalu dipenuhi dengan keyakinan seperti itu. Keyakinan tentang umur kita. Keyakinan tentang masa depan kita. Dan kita melupakan bahwa jika hari ini, detik ini, saat ini, nyawa kita dicabut, maka kita akan mati.
Sebenarnya keadaan bumi yang sudah sangat tua ini tidak perlu dikuatirkan. Yang perlu dikuatirkan adalah kondisi kita. Sudah berapa umur kita saat ini? Dalam usia yang seperti ini kita masih saja asyik dengan kemaksiatan yang terus menerus berkelanjutan. Yang perlu dikuatirkan adalah kondisi amalan kita. Kondisi pundi-pundi pahala yang telah kita siapkan.
Tidak cukupkah khutbah Jumat setiap minggu menjadi peringatan bagi kita tentang hidup di dunia yang hanya sebentar saja?
Tidak cukupkah khutbah lebaran dua kali setahun menjadi peringatan bagi kita untuk meninggalkan maksiat kita?
Tidak cukupkah ceramah selama sebulan Ramadhan kemarin menjadi peringatan bagi kita untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat?
Jika memang belum pernah tersentuh, kapan?
Apakah kita akan menjadi orang yang memiliki telinga tapi tidak mampu mendengar?
Cieeehh.. Ni ceritanya belajar jadi motivator. Kata teman yang tadi ku ajak cerita, "Kamu cocok jadi motivator". Hehee...
Kutulis ini dalam resahku dalam pencarian jati diri. Kemana aku setelah ini? "Menuju Tuhanmu" kata hatiku.

posted by Abied @ 21:29,

0 Comments:

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home