Education
Senin, 03 Desember 2007
Kini fakultas yang aku pilih adalah fakultas keguruan. Sejak menyelesaikan pendidikan di Aliyah, aku ingin menjadi pengabdi ilmu. Menyerahkan seluruh kemampuanku demi perkembangan ilmu. Tidak hanya pada diriku, tetapi juga pada lingkungan di sekitarku. Mulai dari lingkup paling kecil, hingga lingkup terbesar. Itu jika mampu. Namanya manusia hanya berhak berusaha dan berdoa. Yang menentukan adalah Dia.
Dulu sempat niatku terhenti, aku tidak langsung melanjutkan pendidikanku setelah menyelesaikan jenjang sekolah lanjutku. Ada beberapa pertimbangan waktu itu sehingga aku tak lanjut. Salah satunya mungkin karena aku belum bisa jauh dari kampungku. Aku belum terbiasa jauh dari orang-orang yang kusayangi. Karena alasan yang lain juga akhirnya aku melanjutkan studiku. Setahun di kampung sudah mampu menjadi bukti bahwa ilmu sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Termasuk aku. Orang akan dihargai karena ilmunya, bukan hanya karena hartanya. Satu yang menjadi alasan menuntut ilmu menjadi prioritas adalah karena ia merupakan kewajiban yang telah digariskan oleh-Nya, artinya jika aku melakukannya, maka aku akan mendapatkan ganjaran, dan jika aku meninggalkannya maka aku akan mendapatkan balasan. Memang, menuntut ilmu tak hanya didapatkan dari bangku kuliah, tapi universitas kehidupan yang akan kujalani tetap membutuhkan kerangka teoritis untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Banyak alasan orang pergi menuntut ilmu. Ada yang karena menghindari lamaran, ada yang karena ingin mendapatkan gengsi, ada yang hanya mengejar ijazah, ada yang hanya karena ingin menjadi PNS, ada yang hanya karena ingin mencari teman, mengisi waktu lowong, dan berbagai alasan yang lain. Aku tak ingin menjadi salah satu diantara alasan yang berupa HANYA. Aku menuntut ilmu karena aku ingin menjalankan kewajibanku sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan bumi. Tak hanya sekedar menggunakan ilmu untuk kepentingannya sendiri, tapi berusaha sebaik mungkin untuk memanfaatkan ilmu yang ada demi kemajuan umat.
Bukannya sok idealis, tapi memang itulah niat tulus murni yang pernah hadir. Semoga saja itu tidak berubah seiring waktu dan situasi. Kadang orang bisa menjadi sangat idealis karena situasi, tapi akhirnya juga harus mengingkari kata-katanya sendiri karena situasi. Aku ingin menjadi Abied yang sepenuhnya menyerahkan ilmu dan dirinya sebagai Abdi Ilmu.
Banyak kisah orang yang sukses karena keikhlasannya. Jika mesti bercerita, 75% dari orang yang menuntut ilmu saat ini ingin menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dengan satu alasan yang paling kuat, menginginkan tunjangan di hari tuanya. Apakah ini pikiran sehat? Sebagian orang menjawab Ya, tapi mungkin tidak bagi yang lain. Pegawai Negeri Sipil rupanya tidak harus dijadikan satu-satunya tujuan dan alasan orang menuntut ilmu. Ya, kita memang hidup di jaman yang serba formalistis. Semuanya serba formal. Ijazah yang dibutuhkan hanya diperlukan untuk pendaftaran PNS. Sering aku berdebat masalah ini dengan teman-teman yang kini bersamaku. Bagiku, tak apalah engkau ingin menjadi PNS, asal jangan kau jadikan itu sebagai tujuan. Proses pembelajaran yang kau lakukan dalam kelas mestinya bisa menjadi prioritas utama ketika menjadi PNS nanti. Bukan tujuan lain, yakni yang sering digambarkan, tujuan materi. Semua yang ada sekarang diukur dengan materi. Materialistis. Tak dianggap sukses seseorang sebelum ia menjadi PNS. Lho?? Emangnya gak salah? Apakah lahan pekerjaan yang menjanjikan cuma PNS? Padahal, jika mau jujur, satu pernyataan yang benar adalah : Kalau mau kaya, jangan jadi PNS, jadilah pengusaha.
Banyak hal masalah pendidikan yang memang mestinya mendapatkan perhatian khusus dari kita. Khususnya para pengabdi ilmu. Orang yang menyerahkan dirinya demi kemajuan ilmu. Yang tak hanya berpikir tentang kesuksesannya sendiri. Aku hanya kuatir, ragu, kasihan, sedih, melihat realitas yang ada sekarang. Mana ada orang yang benar-benar peduli terhadap pendidikan. Yang ada hanya orang yang mencaci, orang yang memberi kritikan, orang yang mengatakan bahwa pendidikan kita sedang carut marut sedangkan ia tak mampu berbuat apa-apa selain berkoar-koar mengemukakan pendapat. Yang kita butuhkan sekarang adalah tindakan nyata. Kita inginkan pendidikan yang maju, maka kita harus menata niat sejak sekarang, bahwa yang kita butuhkan adalah pendidikan yang membebaskan, bukan pendidikan yang didasari oleh hanya materi. Mungkin saja dunia pendidikan kita benar-benar hancur seperti sekarang ini karena niat kita menuntut ilmu tidak didasari dengan keikhlasan. Mmmm ... Mungkin saja. Dunia pendidikan kita tidak berkah, tidak mendapatkan ridho dari Allah karena orang-orang yang bekerja di dalamnya hanya mengejar dunia. Meskipun tak semua jenis jenjang seperti itu, tapi rata-rata.
posted by Abied @ 16:47,
![]()

