Site Network: Me on Blogspot | Me on Wordpress | SMP 1 Bone-Bone | Al-Falah Connection | Matematika UIN

 

Menjadi abid sebenar-benarnya Abied



Family

Aku dibesarkan dalam keluarga Islami. Ayah, Ibu, Kakak-Kakak dan sepupuku merupakan person yang sangat memperhatikan hubungan dengan Tuhan. Meskipun tidak seekstreme beberapa golongan Islam yang mengklaim sebagai diri paling benar, mereka berusaha memberikan toleransi, menjadi umat yang bijak. Meski kadang jika saatnya tiba, mereka termasuk orang yang keras kepala, mempertahankan tradisi, semau guwe tanpa kekuatan yang sangat. Hehe... ngomongnya malah gak nyambung!
Ibuku merupakan anak dari seorang MODHEN (Mungkin berasal dari kata MUADZIN, tapi diartikan sebagai imam kampung), ya ... waktu itu kakekku adalah tokoh agama yang memiliki pengaruh kuat dalam lingkungannya. Orang Lemahabang mana ada yang gak kenal Mbah CarE', Mbah Supringgo. Beliau adalah salah satu tokoh pendiri Mesjid Miftahul Jannah Lemahabang yang kini sedang dalam masa pembangunan lagi.
Dalam rumpun keluarga, rata-rata orang yang tinggal di Lemahabang adalah keluargaku. Bisa jadi mereka ada keluarga dari garisan Ayahku, tapi bisa jadi juga mereka adalah garisan dari Ibuku. Ayah dan Ibuku sama-sama memiliki banyak saudara.
Saudaranya Bapak : Pakde Tukimin (Bapaknya Pak Harianto Basuki, Guru Kelas 6 SDku), Pakde Dasmanto (Kakeknya Ammang), Pakde Tabri (Bapaknya Siti Rofiah), Pakde Sardi (Dulu Sekretaris Desa), Man Sardju (Yang kemarin dulu waktu gabung dengan Talkmania sempat nelpon dan ngobrol sama aku panjang lebar tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya, weleh ... weleh ...), Man Sarianto (Yang paling muda, paling kaya, paling gagah).
Saudaranya Ibu : H. Wardiyo (Mertunya KH. Ahmad Shodiq), Mbo'De Yat (Mbahnya Ikhwan Hadi), Mbo'De Ti (Mbahnya Kanjeng Ndoro Kakeng Wong Bagus Muhammad Nurtaufiq), Pakde Hasyim (Bapaknya Anjariah Psiko yang kini lagi cuti kuliahnya), Pakde Tawar (Kakeknya Sakhila Salsabila Adhwa), Mbo'de Umi (Ibunya Siti Rofiah), Pakde Anshory dan yang paling kecil adalah Man Masrur (atau biasa dipanggil Pak CilE', atau Bapak Kecil).
Dari garis dua keturunan ayah dan ibuku aku cukup menjadi orang yang juga belajar untuk beragama secara baik. Cita-citaku adalah menjadi hamba yang terbaik yang bisa hadir di hadapan Tuhannya sebagai person yang cukup bersyukur atas semua yang telah diberikan.
Kakak-kakakku memiliki pribadi yang berbeda. Ada yang lemah lembut, ada yang agak kasar, tapi pada intinya mereka semua adalah orang baik. Aku sudah mampu merasakan itu ketika jauh dari rumah. Mereka menjadi orang yang sangat perhatian padaku. Dulu, di saat kecil, memang ada perasaan bahwa aku dibedakan oleh ayah-ibuku, aku menjadi anak yang dinomor duakan. Tiap kali mesti diperintah untuk melakukan ini - itu, tapi sejalan pertumbuhan dan perkembangan kemampuan akalku untuk berpikir jernih akhirnya aku sadar, bahwa bukti sayang mereka pada diriku adalah seperti apa yang telah aku rasakan. Tak ada istilah bahwa mereka tidak sayang padaku, yang ada justru sebaliknya, mereka telah melakukan semuanya demi kebaikan dan kemajuanku.
Akhirnya aku hanya bisa berharap mampu memberikan yang terbaik bagi mereka. Agar mereka bisa berbahagia dan menangis haru atas apa yang telah mereka usahakan bagiku. Uffhhh.. Tuhan kabulkan doaku.

posted by Abied @ 16:48,

1 Comments:

At 23 Desember, 2007 11:58, Anonymous Anonim said...

Yup cuma njajal aja

 

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home