Site Network: Me on Blogspot | Me on Wordpress | SMP 1 Bone-Bone | Al-Falah Connection | Matematika UIN

 

Menjadi abid sebenar-benarnya Abied



Tentang Pujian

"Sesungguhnya manusia itu bagaikan bulan dan cahayanya, apabila genap sebulan maka ia akan tenggelam dan menghilang".
Satu lagi kata bijak tentang keseimbangan hidup. Segala yang muncul di dunia, akan tiba saatnya untuk hilang bersama nama dan kepopulerannya. Mungkin banyak diantara kita yang sadar akan hal ini, tapi ada juga yang tidak. Saya menyebutnya sebagai karma, ada yang menyebutnya sebagai sunnatullah, ada juga yang menyebutnya sebagai hukum keseimbangan.
Bukti yang paling gampang didapat adalah ketenaran seorang artis. Beberapa tahun lalu ketika tampil perdana, Inul Daratista mendapat kecaman dari berbagai pihak. Tak ada hari tanpa Inul yang saya rasakan kala itu, semua media seakan menyorotnya. Dirinya jadi begitu terkenal, hingga mungkin tak satu pun manusia dewasa di Indonesia tercinta yang punya televisi tidak mengenal dirinya. Namun, tiba beberapa saat kemudian tiba-tiba ia hilang. Beritanya bak di telan bumi, hingga tak satu pun media yang meliputnya. Tiba saat yang berbeda, Inul tenggelam, Tukul dengan wajah ndEsO-nya yang katro' dan malu-maluin (dia sendiri yang mengakuinya) muncul di TV, jadi bintang iklan berbagai merk barang, hingga akhirnya menjadi pelawak terfavorit 2007, penggemarnya tak hanya di kalangan internal dalam negeri, tapi katanya juga dari luar negeri. Kini, Tukul sudah mulai berada di titik keseimbangan garis ketenarannya.
Jika ini dibawa dalam setiap lini kehidupan kita, maka yang akan kita lakukan adalah bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Jika hari ini sangat banyak orang yang memuji kita karena kita ganteng lah, karena kita cerdas lah, karena blog kita bagus lah, karena kita berhasil memikat si anu lah, atau karena apapun itu, maka yakinlah bahwa esok akan tiba saat dimana orang akan melakukan hal yang sebaliknya kepada kita. Tak ada satu pun hal di dunia ini tanpa pro kontra dari orang.Ketika bercinta pun begitu adanya. Ketika hari ini kita "begitu" "amat" "sangat" mencintai gadis kita, maka suatu saat akan kita rasakan masa di mana kita akan "begitu " "amat" "sangat" membencinya. Meskipun semua akan kembali normal. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bagi saya hal yang paling mudah menjelaskannya adalah : Makin tinggi kita memanjat, akan makin sakit ketika kita terjatuh. Cinta yang teramat sangat akan menjadi kebencian yang teramat pula. Sedangkan cinta yang biasa saja akan menjadi kebencian yang biasa saja ("Ketika terjadi pengkhianatan di dalamnya").
Mungkin banyak di antara kita yang senang dipuji. Padahal, pujian itu adalah cobaan ketenaran. Kadang, orang yang memuji juga ingin balik dipuji. Hehehe... Ya, bukankah kita selalu mengharapkan balasan atas apa yang kita lakukan? Seorang pekerja yang bekerja giat pun akan selalu meminta gajinya dinaikkan setiap tahunnya. Seorang siswa yang belajar keras, menginginkan balasan nilai yang memuaskan. Seorang hamba yang beribadah, selalu mengharapkan balasan berupa ridho dari Tuhan-Nya. Hal yang sepele pun berlaku itu. Kita memuji, karena kadang ingin dipuji. Ketika pujian tak juga diberikan, kita kecewa. Kita gak terima. Dan akhirnya tidak mau memuji. Hiks ... hiks ...
Jangan terlalu sering memuji, itu pesan Rasul. Bahkan, Beliau berkata : Ambillah pasir, dan lemparkan pada orang yang memujimu.(Hayooo... siapa yang mau memuji saya, sini ... Saya sudah pegang pasir lho!)
Semoga kita tidak hanya selalu menanti pujian pada setiap aktivitas kita. Semoga semangat kita bertindak bukanlah berdasarkan pujian. Karena jika suatu saat tiba masanya kita menjadi orang yang di-nafi-kan, apakah kita akan tetap mampu berkarya tanpa dukungan dari pujian? Semoga kita menjadi makin baik. Amin.

posted by Abied @ 21:57,

0 Comments:

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home