Tolong Bantu Kami [Kaum Lelaki]
Senin, 21 Januari 2008
Beberapa hari ini saya memperhatikan gaya pakaian beberapa orang gadis yang lewat di depan AEP studio, sebuah studio kecil tempatku dan beberapa teman berkarya. Rupanya, gaya berpakaian yang kini sedang ngetrEnd adalah gaya pakaian ala burasa' (kata salah seorang ustadz). Disebut sebagai gaya pakaian burasa', karena memang modelnya seperti bungkus burasa'. Pernah lihat burasa' gak? Burasa' atau ada juga yang menyebutnya buras, adalah makanan yang terbuat dari beras, hampir mirip dengan lontong, hanya saja dibungkus dengan daun pisang dan pembuatannya dicampur dengan santan, sehingga rasanya gurih, tidak seperti lontong yang rasanya hanya mirip dengan nasi biasa. Setelah dimasak setengah matang, kemudian dicampur santan, dibungkus lalu dimasak lagi. Bungkusan burasa' ini diikat dengan tali, biasanya yang digunakan adalah tali rafia (tali plastik). Nah, karena ikatannya mesti kuat, bentuk bidang pada bagian yang tidak diikat akan menonjol keluar dibanding yang diikat. (Ah, sulit ngebayanginnya. Kalau ada yang mau liat gambarnya, ntar dicariin. Hiks .. hiks ..)
Begitu juga dengan gaya pakaian yang kini sering kulihat. Hampir sama dengan burasa itu. Ketat, membentuk dan menonjolkan. Kadang, jika berjalan bersama teman-teman cowok tepat di belakang wanita yang berapakaian seperti ini, aku cuma bisa bilang : Hei, jangan lama-lama ngeliatnya! Pandangan yang gratis adalah pandangan pertama, yang kedua sudah mesti bayar. Hehehe.. Tapi memang sangat sulit dihindari. Hadits tentang menundukkan pandangan terasa sangat sulit bagiku. Untungnya, lingkungan-ku adalah lingkungan mahasiswa Islam, yang kebanyakan berjilbab. Meski begitu, gaya pakaian burasa' masih tetap saja mudah ditemui. Di jalan menuju pasar, di mall, di lapangan, pantai, dan sebagainya.
Kadang risih juga ngeliat cewek yang berpakaian ekstra minim. Kasihan sih. Yang kuperhatikan adalah perasaan ketidaknyamanan mereka ketika berada dalam satu tempat (kendaraan umum misalnya) bersama kaum berlainan jenis (Cowok maksudnya). Yang paling sering terjadi adalah jika sang cewek menggunakan baju PALOPO (Pamer Lobang Pocci. Pocci = pusar, pusat). Bajunya ekstra minim, kalau turun dari kendaraan umum, tangan yang kanan mesti menutup bagian dada (maksudnya agar tidak terlihat oleh orang yang ada di dekat mobil (Daeng becak misalnya), sedangkan tangan yang kiri memegang ujung pakaian bagian belakang (maksudnya agar kulit yang berada di sekitar daerah itu tidak terlihat oleh orang yang di dalam mobil). Ufh ... Syekh pengajar Bahasa Arab di kelasku 2 tahun lalu sambil keheranan dan tertawa berkata : Limadza an-nisaa' hunaak taf'al haa kadza wa haa kadza (Maksudnya : Kenapa wanita-wanita di sini melakukan ini dan ini, katanya sambil mempraktekkan cara seorang gadis turun dari kendaraan umum, yakni menarik pakaian bagian belakang ke bawah dan menutupi bagian dadanya dengan tangan). Yang pasti dia tidak ingin beberapa bagian atas tubuhnya terlihat oleh orang lain.
Tapi mengapa mesti menggunakan pakaian seksi jika tak ingin itu terlihat? Tapi mengapa masih menggunakan pakaian ala burasa' jika merasa tak nyaman? Apa demi trend?
Tolonglah kami wahai para wanita yang sering menggunakan pakaian ekstra ketat, ekstra minim. Kami normal, punya perasaan yang heh ketika engkau menyuguhi kami dengan tampilan seronok begitu. Jangan hanya mampu berkata : Otakmu saja yang kotor. Walah, setiap lelaki normal akan membayangkan hal yang jauh dari tampilan luar itu jika diberi pemandangan itu.
Jujur saja, kami suka keindahan. Tapi, mungkin belum saatnya keindahan itu kau tampakkan pada setiap orang. Ada orang istimewa yang berhak menikmati keindahan itu.
Jadi tolong, jaga kami dengan menjaga apa yang kau perlihatkan pada kami. Okey? Kita saling membutuhkan, karenanya kuharap kita bisa saling memahami. Thanks.. ;-)
Begitu juga dengan gaya pakaian yang kini sering kulihat. Hampir sama dengan burasa itu. Ketat, membentuk dan menonjolkan. Kadang, jika berjalan bersama teman-teman cowok tepat di belakang wanita yang berapakaian seperti ini, aku cuma bisa bilang : Hei, jangan lama-lama ngeliatnya! Pandangan yang gratis adalah pandangan pertama, yang kedua sudah mesti bayar. Hehehe.. Tapi memang sangat sulit dihindari. Hadits tentang menundukkan pandangan terasa sangat sulit bagiku. Untungnya, lingkungan-ku adalah lingkungan mahasiswa Islam, yang kebanyakan berjilbab. Meski begitu, gaya pakaian burasa' masih tetap saja mudah ditemui. Di jalan menuju pasar, di mall, di lapangan, pantai, dan sebagainya.
Kadang risih juga ngeliat cewek yang berpakaian ekstra minim. Kasihan sih. Yang kuperhatikan adalah perasaan ketidaknyamanan mereka ketika berada dalam satu tempat (kendaraan umum misalnya) bersama kaum berlainan jenis (Cowok maksudnya). Yang paling sering terjadi adalah jika sang cewek menggunakan baju PALOPO (Pamer Lobang Pocci. Pocci = pusar, pusat). Bajunya ekstra minim, kalau turun dari kendaraan umum, tangan yang kanan mesti menutup bagian dada (maksudnya agar tidak terlihat oleh orang yang ada di dekat mobil (Daeng becak misalnya), sedangkan tangan yang kiri memegang ujung pakaian bagian belakang (maksudnya agar kulit yang berada di sekitar daerah itu tidak terlihat oleh orang yang di dalam mobil). Ufh ... Syekh pengajar Bahasa Arab di kelasku 2 tahun lalu sambil keheranan dan tertawa berkata : Limadza an-nisaa' hunaak taf'al haa kadza wa haa kadza (Maksudnya : Kenapa wanita-wanita di sini melakukan ini dan ini, katanya sambil mempraktekkan cara seorang gadis turun dari kendaraan umum, yakni menarik pakaian bagian belakang ke bawah dan menutupi bagian dadanya dengan tangan). Yang pasti dia tidak ingin beberapa bagian atas tubuhnya terlihat oleh orang lain.
Tapi mengapa mesti menggunakan pakaian seksi jika tak ingin itu terlihat? Tapi mengapa masih menggunakan pakaian ala burasa' jika merasa tak nyaman? Apa demi trend?
Tolonglah kami wahai para wanita yang sering menggunakan pakaian ekstra ketat, ekstra minim. Kami normal, punya perasaan yang heh ketika engkau menyuguhi kami dengan tampilan seronok begitu. Jangan hanya mampu berkata : Otakmu saja yang kotor. Walah, setiap lelaki normal akan membayangkan hal yang jauh dari tampilan luar itu jika diberi pemandangan itu.
Jujur saja, kami suka keindahan. Tapi, mungkin belum saatnya keindahan itu kau tampakkan pada setiap orang. Ada orang istimewa yang berhak menikmati keindahan itu.
Jadi tolong, jaga kami dengan menjaga apa yang kau perlihatkan pada kami. Okey? Kita saling membutuhkan, karenanya kuharap kita bisa saling memahami. Thanks.. ;-)
posted by Abied @ 09:34,
![]()
2 Comments:
- At 22 Januari, 2008 01:07, said...
-
itu adlah keindahan, hak untuk mencipta keindahan, asyik hoi
- At 25 Januari, 2008 04:31, sluman slumun slamet said...
-
jadi yang salah sapa?
:D


